Cinta Tanpa Kata

“Aaaakk..!” teriakku kesakitan.

“Tahan sedikit ya mbak,” ujar Mbak Fajar, perawat gigi yang membantu Dokter Hari dalam operasi pencabutan gigiku.

Aku terdiam menahan sakit.  Sudah setengah jam ini kubuka mulutku di depan Dokter Hari dan Mbak Fajar. Kurelakan gigiku berdarah karena dioyak secara paksa menggunakan pisau bedah sang dokter. Ini operasi gigi kedua dalam hidupku, seharusnya aku akan baik-baik saja.

“Minum ini sekarang,” ibu mengulurkan tiga jenis obat kepadaku.

“Sekarang bu? Tidak menunggu nanti saja setelah kita sampai di rumah?” tanyaku.

Ibu meletakkan obat tersebut di meja hadapanku. Kulihat isinya, semua tablet. Tidak ada obat cair atau puyer. Aku menelan ludah. Celaka, aku tidak bisa minum tablet.

Ibu berkata, “Makin cepat minum obat, makin cepat obat bekerja untuk mengurangi rasa sakitmu”.

Kupandangi obat-obat itu. Aku mengambil segelas air. Berpikir bagaimana agar semua obat ini bisa kuminum dengan cepat. Aku memang manja, hingga sebesar ini tidak mau minum tablet atau kapsul. Harus obat cair.

“Sudah minum obat?” ibu kembali menghampiriku.

“Sudah,” jawabku. Sudah dua obat, tinggal satu yang belum kuminum. Terlalu besar, nanti saja di rumah akan kuhancurkan tablet tersebut agar mudah kutelan.

“Kamu ada internet? Pesan taksi ya”

“Kenapa tidak naik bus aja bu? Sinar matahari tidak terlalu terik hari ini. Malah sedikit mendung. Aku mau kok jalan kaki ke halte”

“Kamu kan lagi sakit karena operasi. Pasti pusing. Kita naik taksi saja.”

Dengan mata berkaca-kaca kupeluk ibu. Aku merasa sedih. Sedih karena harus meninggalkan rumah lagi. Sedih karena aku jarang memeluk ibu. Rasanya ingin kukutuk diriku sendiri. Kenapa baru sekarang memeluknya?

Ibu balas memelukku. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Aku tidak melihat beliau menangis. Hanya diam, tersenyum. Tanpa banyak kata, tanpa banyak gerakan. Tidak ada kata cinta terucap, tapi rasa itu sungguh kencang menghujam sanubari. Tidak ada pembicaraan, tapi aku tahu bahwa ibu sedang sedih dan sangat khawatir melepas kepergianku. Aku sayang ibu, aku bertekad untuk tidak akan pernah mengecewakannya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s